Jusuf Kalla: Rusuh Ambon Akibat Kesalahpahaman
Liputan6.com, Bandung: Mantan Wakil Presiden Jusuf Kalla mengatakan, bentrokan massa yang terjadi di Ambon, Maluku, akibat adanya kesalahpahaman yang disebarluaskan melalui pesan singkat dan teknologi. Hal ini berbeda dengan peristiwa serupa yang terjadi pada tahun 2000 yang disebabkan ketidakadilan politik dan ekonomi.
Dalam keterangannya kepada wartawan usai menghadiri sidang Senat Terbuka Universitas Pasundan Bandung, Jawa Barat, Rabu (14/9), Jusuf Kalla menjelaskan, untuk menghindari terulangnya peristiwa serupa, pemerintah harus melakukan upaya transparansi informasi kepada masyarakat. Selain itu harus dilakukan pembauran warga Ambon agar tak tersegmentasi dan tak mudah diadu dombaoleh pihak yang tidak bertanggung jawab.
Suasana di Ambon hari ini sudah kembali normal. Sebagian besar pegawai negeri sipil di kantor-kantor pemerintah, seperti di kantor Gubernur dan Pemkot Ambon, mulai bekerja seperti biasa.
Pertokoan di kawasan rawan konflik juga sudah mulai buka, meski ada yang masih tutup. Untuk memberi rasa aman kepada pemilik toko dan warga, tentara disiagakan di sejumlah titik, seperti di Jalan AY Patty, AM Sangadji, dan Sam Ratulangi.
Transportasi laut yang dua hari lumpuh juga sudah kembali normal. Pelabuhan Penyeberangan Hunimua-Wapirit kembali diramaikan warga yang datang dan pergi ke berbagai daerah.
Meski suasana berangsur pulih, kegiatan belajar mengajar belum sepenuhnya normal. Di beberapa sekolah, sebagian kelas masih kosong. Murid yang trauma atas kerusuhan masih takut datang ke sekolah. Jika ada yang datang, mereka ditemani orangtuanya. Diperkirakan kegiatan belajar mengajar akan normal sepenuhnya mulai hari ini.
Seperti diberitakan, kerusuhan di Ambon terjadi Minggu siang. Dipicu kecelakaan lalu lintas yang menewaskan seorang tukang ojek. Akibat kerusuhan, tujuh orang tewas dan puluhan mengalami luka. Sekitar 150 rumah warga terbakar dan lebih dari 4.200 orang terpaksa mengungsi.(ULF)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar